Tentang UN: Surat untuk Pak Menteri

Tentang UN

Jakarta, 30 April 2013 – Merujuk pada tulisan saya sebelumnya (School Experience Program: Transformasi Kualitas Pendidik – http://bit.ly/14LhG7j); saya ingin menceritakan sedikit pengalaman pribadi saya di program ini. Kali ini saya ditempatkan di sebuah SMA Negeri di bilangan Jakarta Timur untuk mata pelajaran Bahasa Inggris. Saya banyak belajar dari ‘murid-murid’ saya di beberapa kelas tempat saya belajar. Salah satunya dari aktivitas pembelajaran yang saya beri judul: Surat untuk Pak Menteri (A Letter for Our Minister of Education and Culture).

Pada pertemuan sebelum sesi ini, saya mengadakan debat kelas dalam rangka melatih kemampuan berbicara dan kemampuan memberikan argument serta rekomendasi. Saya membagi menjadi dua bagian (for and against) dan saya berikan motion: Does National Exam Need to be Abolished Next Year?

Suasana perdebatan berjalan dengan baik, memang awalnya kelompok negative (yang mendukung tetap diadakannya UN tahun depan) menolak perannya; namun saya berpesan untuk menganggap diri mereka seolah pengacara di persidangan.

Pertemuan berikutnya saya mengajak ‘murid-murid’ untuk berlatih menulis surat. Saya kaitkan dengan tema pertemuan sebelumnya, yakni tentang ujian nasional. Kali ini saya bebaskan setiap ‘murid’ untuk menulis apa yang menjadi isi hari mereka (baik mendukung atau menyarankan UN dihapus).

Hasil tulisan saya terima dan say abaca satu per satu. Mengejutkan! Hampir semua tulisan menyoroti permasalahan UN yang terjadi tahun ini, seperti kertas LJK terlalu tipis, lembar soal yang terlambat, bahkan tindak kecurangan yang terjadi. Dari fakta tersebut, mereka menarik kesimpulan untuk dihapuskannya UN tahun depan. Sebentuk ketidakrelaan perjuangan mereka selama 3 tahun yang ditentukan hanya oleh ‘keajaiban 4 hari’ juga tertera dalam tulisan-tulisan tersebut. Banyak juga pendapat mengenai kelulusan yang tidak menggugah potensi siswa, mengingat potensi siswa sangat beragam. Seperti misalnya:

“How about other lessons that we learn for about 3 years? Why don’t we just study the subjects that will be examined in the National Examination?” – “Bagaimana dengan pelajaran lain yang kita pelajari selama hampir 3 tahun? Mengapa kita tidak belajar mata pelajaran yang diujikan saja?

Beberapa saran juga muncul dalam tulisan tersebut, salah satu contohnya: “I think we can use school exam and the rapports from our 1st semester here to be graduated. Then, the students will only focus on the University entrance test. For the underprivileged students, you can support them financially to continue their study in the university.” – “Saya rasa kita bisa gunakan ujian sekolah dan raport dari semester 1 untuk kelulusan. Sehingga kita bisa fokus saja ke tes masuk universitas. Untuk siswa dari ekonomi rendah, Bapak bisa dukung mereka secara finansial untuk melanjutkan ke jenjang universitas” tulis seorang siswa laki-laki.

Hal yang unik untuk saya adalah tulisan beberapa ‘murid’ yang menyarankan Ujian Nasional tahun depan tetap diadakan, namun dengan beberapa syarat. Beberapa contoh pernyataan tersebut antara lain:

“I hope these mistakes will not happen again in next year. Good luck for next year, Mr. Nuh” – “Saya harap kesalahan-kesalahan tahun ini tidak terulang lagi. Semoga tahun depan lebih baik, Pak Nuh.”

“Since it can measure national achievement on education, In my opinion, National Examination doesn’t need to be abolished; but our government should improve the quality and its implementation procedures. All students in Indonesia should have the access to participate, but please don’t do any cheating” – “Karena ini dapat mengukur perkembangan pendidikan nasional, menurut saya ujian nasional tidak perlu ditiadakan; hanya saja pemerintah perlu meningkatkan kualitas serta prosedur implementasinya. Setiap siswa di Indonesia harus mendapatkan akses untuk berpartisipasi, tetapi jangan lakukan kecurangan”

Sebagai akhir dari sharing saya, tulisan dari ‘murid’ ini sangat menarik untuk perenungan saya: “So, all of us must participate to find the solution of national exam and for the education quality improvement in Indonesia. Thus, Indonesia human resources can be better” – Apakah pemerintah kita sudah banyak melibatkan pihak-pihak terkait (terutama generasi muda) untuk mengambil kebijakan? Inklusivitas ini menurut saya penting, pemimpin yang baik perlu mendengar aspirasi dari orang yang ia anggap hina sekalipun. Pemimpin bukan tuhan:D

Kertas-kertas surat ini masih ada di tangan saya untuk saya koreksi dalam usaha pengukuran kemampuan writing mereka. Setelah selesai, perlukah saya minta ‘murid-murid’ itu untuk revisi dan kemudian benar-benar saya kirim ke Kemendikbudnas di Senayan sana? :)

@Yosea_Kurnianto

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s